4 Cara untuk Mengelola Brand Voice di Media Sosial

Keberadaan media sosial sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit jutaan manusia menikmati berbagai macam konten yang disediakan oleh media sosial. Mulai dari kata-kata motivasi, video lucu, foto artis yang dikagumi, dan banyak lainnya. Platform developer media sosial pun berlomba-lomba melengkapi fitur produk mereka untuk menjadi yang terbaik.

Tidak hanya masyarakat yang menikmati manfaat media sosial di kehidupan sehari-hari, banyak brand lokal maupun internasional yang juga tidak mau ketinggalan memanfaatkan kesempatan di tengah pesta dunia digital yang sangat cepat berubah ini. Brand yang sudah berkembang di dunia digital akan berusaha membangun akun media sosial mereka, menarik perhatian penikmat media sosial dengan tampilan visual serta komunikasi yang tertata.

tips mengelola brand voice media sosialSalah satu platform developer yang begitu ramai tercatat memiliki jumlah 800 juta pengguna aktif per bulan. Menurut hasil riset, terdapat 32% pengguna internet aktif yang tersebar di berbagai platform media sosial. Salah satu platform dengan jumlah pengguna terbesar adalah Instagram, yang didominasi pengguna wanita sebesar 68%. Dengan jumlah pengguna aktif sebesar itu, Instagram menjadi salah satu ladang hijau bagi penggiat usaha dari berbagai skala. Mudah kita temui saat ini beragam brand yang bersaing menawarkan produk dan jasa yang mereka miliki.

Tetapi, banyak juga yang lupa bahwa media sosial adalah sebuah pesta sosial di dunia digital. Interaksi diawali dari kebutuhan sosial. Sedangkan kebanyakan brand sibuk menawarkan produk mereka dengan cara yang kurang sesuai dan kurang diminati oleh pengguna media sosial. Oleh karena itu, tidak hanya menawarkan sebuah produk, brand juga harus mengupayakan bentuk komunikasi dan membangun relasi dengan pengguna media sosial.

Seperti apa caranya? Simak caranya berikut ini:

4 Cara Mengelola Brand Voice di Media Sosial

#1 – Mulailah dengan Rencana dan Tujuan

Untuk turut berpartisipasi di tengah pesta digital media sosial, hal penting yang perlu diperhatikan oleh brand adalah menentukan tujuan dan mempersiapkan perencanaan. Kesalahan awal brand yang mengelola akun media sosial adalah tidak mempersiapkan tujuan atau perencanaan lain selain berjualan melalui digital platform.

Tujuan yang sudah ditetapkan di awal akan membuat Anda lebih mudah untuk mengambil keputusan, merencanakan konten, dan menilai pencapaian yang sudah diraih. Kemudian untuk mencari ideal customer dan follower pun harus disesuaikan dengan kriteria yang sudah disebutkan dalam tujuan awal. Setelah itu, masuk ke tahap perencanaan dan pembuatan konten yang menarik menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan kriteria spesifik customer brand yang ideal.

brand voice examples starbucks indonesiaKita ambil contoh studi kasus konten Starbucks. Jika melihat case-study ini, Starbucks mempunyai tujuan atau misi yaitu: “Inspire and nurture the human spirit-one person, one cup, and one neighborhood at a time.” Melalui tujuan tersebut, Starbucks dapat mendefinisikan siapa pelanggan ideal mereka dan sekaligus menentukan bahasa spesifik dalam berkomunikasi sesuai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya di awal.

Menurut, Business Dictionary, skill komunikasi dapat didefinisikan sebagai:

The ability to convey information to another effectively and efficiently. Business managers with good verbal, non-verbal and written communication skills help facilitate the sharing of information between people within a company for its commercial benefit.

Hal yang paling utama sebelum menentukan dan menyusun sebuah konten, serta mengelola brand voice adalah mengenali siapa pelanggan ideal brand tersebut.

#2 – Berikan cukup value untuk membantu orang tanpa melepas the Farm

Hal utama yang harus diingat brand yang terlibat di media sosial adalah platform ini merupakan media untuk bersosialisasi. Ketika brand masuk dan memposisikan diri sebagai media marketing, pengguna (serta calon customer) akan merasa terganggu dan kurang nyaman dengan kehadirannya. Maka, jadilah seseorang yang menyenangkan, berbicara bukan dengan pakaian marketing, dan menjadi pendengar—bukan seseorang yang terus-menerus menawarkan produk yang dimiliki. Mendengar adalah kemampuan terpenting brand untuk dapat beradaptasi di media sosial.

Pengguna media sosial memiliki kebutuhan untuk ingin didengar dan berbicara dengan seseorang yang mengerti mereka. Hal inilah yang membuat Instagram merilis fitur terbarunya yaitu Stories, fitur sharing hingga IGTV. Sebagai media untuk memfasilitasi pengguna yang ingin berbagi keseharian mereka, opini maupun mengekspresikan ide yang dimiliki secara real-time. Di sisi lain, brand cenderung hanya berbicara satu arah dan tidak membagikan apapun kecuali informasi produk mereka.

The more valuable content you can share with your fans and follower, the greater the trust and reputation you’ll build with them.

Hal minimal yang dapat dilakukan brand selain mendengar adalah membangun reputasi dan kepercayaan, yang merupakan bentuk engagement di sebuah akun media sosial. Engagement merupakan poin utama, selain konten dan visual yang dibangun. Sehingga tidak hanya mengelola brand voice, tetapi juga membagikan nilai-nilai yang dapat menginspirasi para follower atau audience.

Dengan membagikannya ke follower secara konsisten, brand sekaligus juga memberikan solusi untuk masalah yang dialami kebanyakan audience mereka. Dengan ini, brand akan membangun kepercayaan dari follower/customer, yang nantinya akan berujung pada angka sales/penjualan. Namun perlu diingat, konten-konten yang dibagikan tetap harus menyesuaikan tujuan awal.

Kita masuk ke studi kasus berikutnya, yaitu Zappos.

brand voice examples zappos

brand voice zappos

Zappos membangun value mereka dengan cara “Delivering Happiness”. Zappos tidak secara langsung menampilkan harga produk, nama barang yang dijual, tetapi mengemas komunikasinya menggunakan sebuah cerita yang terhubung dengan value yang Zappos anut.

#3 – Ingat, tidak hanya tentang update akun–Anda juga perlu terhubung dengan mereka!

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hal yang terpenting untuk dilakukan di media sosial adalah komunikasi. Tolak ukur untuk menilai upaya komunikasi brand dengan customer adalah engagement.

grafik penggunaan instagram pasca story launchRiset terhadap 1272 responden dengan pertanyaan, “Sejak munculnya fitur Stories pada Instagram, dibanding dengan feed, manakah yang lebih dipilih untuk menghabiskan waktu?”

Dan hasilnya cukup mengejutkan, 988 responden memilih untuk melihat konten-konten dari feed dan sebanyak 284 orang memilih menikmati fitur Stories di Instagram. Dari penelitian tersebut, didapatkan dampak yang cukup besar bagi pengguna Instagram.

 

grafik statistik engagement instagram post

Melihat grafik di samping, dimulai dari awal Agustus (Stories diluncurkan pada 2 Agustus), terdapat penurunan angka brand yang menggunakan Stories. Hal yang sama juga terjadi pada brand yang tidak mengakses fitur Stories.

Penurunan engagement sejak fitur Stories diluncurkan memang tidak besar, tetapi angkanya tetap signifikan.

Engagement dibangun lewat percakapan yang dibuat melalui konten. Cerita yang diceritakan melalui konten media sosial menggunakan metode story telling. Saat follower engage dengan konten yang dibagikan, mereka akan dengan mudah menjadi loyal customer. Hal tersebut juga dapat diartikan sebagai penjualan nyata. Indikator real engagement dinyatakan dengan sales yang nyata dan pelanggan setia.

#4 – Sumber berharga berisi feedback dan insight bermanfaat

Marketing yang handal akan konsisten mengamati pembicaraan mengenai brand yang dikelola di media sosial. Dari conversation dan forum terbuka, orang-orang mungkin saja akan membicarakan hal-hal terkait brand seperti servis, produk dan media brand. Hal tersebut bisa menjadi feedback yang berguna serta insight yang perlu Anda ketahui untuk pengembangan produk atau komunikasi brand ke depannya.

Terbukalah pada pembahasan terkait brand Anda di media sosial, informasi tersebut merupakan sumber berharga untuk membenahi brand dan menjadi masukan yang akan sangat berguna di kemudian hari.

 

Sampai di sini, saya harap kini Anda tak lagi bertanya, “Mengapa pemasaran Instagram itu penting?”.

 

 

by Yudianto Prabowo
Social Media Strategist

Keep up with the trends

Stay current with the latest digital marketing news and updates!